Clossing Ceremony Festival Teater Jateng 2019
Setelah di laksanakannya Festival Teater Jateng 2019 yang berlangsung selama 4 hari, sejak hari senin hingga selasa yang telah diikuti dari berbagai teater-teater yang ada di sma serta universitas di Jawa Tengah. Festival teater ini telah diberlangsung  selama 19 tahun, dan hanya teater gema yang menyelenggarakan festival teater dengan skala nasional. Sebagai mahasiswa UPGRIS merasa bangga atas pencapaian tersebut dan turut mengapresiasi apa yang telah dilakukan panitia serta anggota teater gema. Selain penutupan festival, sekaligus peluncuran kitab lakon kedua yang berjudul “Yang Tak Ada Tak Akan Pernah Hilang” yang ditulis dari anggota teater gema mulai dari semester 2, 4, 6 serta alumni turut berpartisipasi dalam pembuatan kitab lakon kedua ini.
Awal acara yaitu penampilan dari sangkatama yang merupakan salah satu Ukm di Universitas PGRI semarang yang menampilkan karawitan. Terdapat 2 sinden yang mengalunkan gendhing-gendhing jawa dengan suara khasnya.
Bapak Rektor Muhdi menghadiri acara guna meresmikan festival teater jateng 2019 telah ditutup. Sebagai simbol ditutupnya dengan pencabutan wayang dan pelepasan id card yang diwakili mahasiswa. Bapak rektor sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan teater gema beliau juga menyampaikan “kalau ada progres berarti kita hidup” dan hanya di upgris yang menyelenggarakan secara rutin festival teater ini. Tradisi yang dibangun oleh teater gema tidak hanya berpentas tetapi juga menulis dan membukukan karya-karyanya.
Pembina teater gema yaitu bapak Setia Naka Andrian, kitab lakon kedua ini di dibuat oleh 8 penulis dan entah kebetulan atau bagaimana kitab lakon pertama yang berjudul “dongeng negeri dongeng” juga disusun oleh 8 penulis. Gema berupaya untuk mencipta memberi menjaga melalaui proses kehidupan teater. Kitab lakon ini sebagai sepak terjal teater gema.
Sebelum pembacaan nominasi dari berbagai kategori adanya penampilan memukau dari Fanny Soegi atau Soegi Bornea sebagai bintang tamu dalam acara Closing Ceremony, penampilan akustik yang menyanyikan 2 buah lagu, Soegi Bornea sosok perempuan berparas cantik serta bersuara merdu, nama Bornea berasal dari wilayah asalnya yaitu Kalimantan.
Acara inti yang di tunggu-tunggu yaitu pembacaan nominasi dalam kategori aktor utama terbaik festival jateng adalah Muhammad Rafly Arya Wiguna sebagai Bilal dan naskah Orang Kasar. Serta aktris terbaik jatuh kepada Bunga sebagai Nenek dalam naskah Nenek Tercinta dari SMA Negeri 5 Semarang. Selanjutnya pembacaan pemenang kategori aktor pembantu terbaik jatuh kepada Ahmad Adi Prasetyo sebagai Darmo dalam naskah Orang Kasar dari MA Salafiah Karang Tengah dan pemenang kategori aktris pembantu terbaik yaitu Anyelin Sukma Wati sebagai Lastri dalam naskah Nenek Tercinta dari SMA Negeri 1 Brebes.
Di sela-sela pembacaan pemenang dari berbagai kategori, di suguhkan dengan penampilan tarian tradisional yang dibawakan oleh Srikandi Segoro Muncak yaitu Tari Golek TirtaKencana. Tari Golek berkisah tentang gadis remaja yang sedang bersolek, makna Tari Golek berdasarjan asal katanya ‘Golek’ dalam bahasa Jawa yang berati mencari, maka menari Golek memilikk makna pencarian jati diri si gadis remaja. Jika dikaitkan memang masa remaja yaitu masa pencarian jati diri seseorang.
Selanjutnya pembacaan pemenang kategori penyutradaraan terbaik yaitu jauh kepada Teater Sawang dalam naskah Orang Kasar dari SMA Negeri 1 Sumbe Lawang dan pemenang kategori artistik terbaik diraih oleh Teater Sukma dalam naskah Nenekku dari SMA Negeri 2 Semarang. Selanjutnya dibacakan pemenang dari kategori drama, penyaji juara 1 diraih oleh Teater Sawang dari SMA Negeri 1 Sumber Lawang, juara 2 Teater sukma dan juara 3 diraih oleh Teater Emas dari MA Salafiah Karang Tengah.
Bapak Suhartono Padmo Soemarto (Mas Ton) beliau pendiri Teater Lingkar Semarang, serta menjadi juri drama dan monolog  pada festival teater jateng. Mas ton memberi sedikit sambutan serta wejangan. Lalu meminta sinden karawitan yang merupakan salah satu mahasiswa UPGRIS untuk menyanyikan gendhing ojo lamis, beliau menyampaikan bahwa diibaratkan UPGRIS itu tidak Lamis.
Lalu pembacaan pemenang kategori penyaji molog juara ketiga diraih oleh Teater Sukamto Unissri, juara kedua diraih oleh Teater Dipo Undip serta juara pertama diraih oleh Teater Pacelaton Ums Surakarta. Selanjutnya pemenang dari katogeri sayembara naskah yaitu favorit 1 wajah penangkapan oleh Indana Maulana, favorit 2 mata pisau oleh Budi Prasetyo.
Selanjutnya penampilan perform ART dari Kolektif Cari Nama yang mengisahkan tentang manusia. Menurut saya pribadi memang yang disajikan secara kasat mata bagus tetapi saya sendirikurang memahami apa yang ingung disampaikan dalam penampilan tersebut, mengisahkan tentang apa. Dan berpakaian seperti itu diarea kampus menurut saya kurang tepat. Dia yang melakukan seperti itu mempertontonkan tubuhnya di khalayak umum, saya sendiri sebagai perempuan merasa malu dan risih melihatnya. Memang suatu pertunjukan harus totalitas tetapi tidak juga seperti itu.  Selanjutnya penampilan dari Ruang Musik Rahayu. Setelah serangkaian acara yang dilaksanakan sampailah pada akhir acara pesan bagi yang kalah jangan putus asa dan teruslah belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi dan selamat bagi pemenang di Festival Teater Jateng. Terimakasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelam

Senja