Terjebak Nostalgia
Suatu pagi hawa dingin masih menyelimuti
seakan enggan beranjak dari tempat tidurku, tetapi ada janji yang harus aku
tepati. Janji dengan seorang lelaki yang mengajarkanku arti rasa nyaman. Aku
bergegas untuk siap-siap sebelum ia menghampiriku, tak lama kemudian terdengar
klakson mobil didepan rumahku. “Oh ternyata dia sudah datang” ucapku dalam hati
sembari berkaca penampilanku saat itu. Aku berlari membukakan pintu dan kusapa
dengan senyum termanisku. Tak lama kemudian segera berangkat karena waktu
menunjukan pukul tujuh.
Saat itu ialah kali pertama ku bertemu
dengannya. Ketika kupandang dia jantung ini berdegub lebih kencang seakan
merasakan getaran sesuatu. “Apakah ini yang di namakan jatuh hati?” batinku sembari
memandangnya. Dia berkata “jangan memandangku terus nanti kamu jatuh cinta”
jawabku dengan senyum tipis. Setelah 3 jam perjalanan sampailah ke negeri di
atas awan kabut tebal menyelimuti, udara terasa sangat dingin.
Yaa! ini kali pertamaku ke Dieng bersama
seseorang yang baru ku kenal. Tapi entah kenapa aku percaya kepadanya. Setelah
adzan dhuhur berkumandang, langitpun berubah jadi gelap tak lama hujanpun
mengguyur sekitar Dieng. Kami segera berlari mencari tempat berteduh. Hawa
dingin pun kian menusuk tulang, secangkir kopipun bisa menghangatkan.
Mataku tertuju pada suatu rangkaian bunga
yang khas dari pegunungan yaitu bunga abadi biasa disebut bunga edelweis.
Warnanya yang menarik merah dan hijau karena telah di warnai oleh sang penjual
supaya lebih menarik, warna asli bunga tersebut yaitu putih. Dia bertanya
padaku “ kamu mau bunga itu?” “iya, aku mau! Aku suka bunga itu” ucapku. Lalu
ia membelikannya untukku. Perasaanku sangat senang sekali, biarpun hanya bunga
edelweis tetapi bisa membuatku bahagia.
Bau menyengat makin terasa disekitar Kawah
Sikidang, pengunjung ramai berdatangan. Setiap akhir pekan banyak yang
menghabiskan waktu di daerah tersebut. Di bercanda kepadaku “baunya seperti
kamu ya” sambil tertawa. “dih, engga ya masak aku bau belerang sih, aku wangi
kok” jawabku. Sekitar Kawah Sikidang terdapat banyak tempat foto menarik yang
sengaja disediakan oleh pengelola. Pengunjung juga bisa menikmati telur rebus
yang dimasak di kawah tersebut.
Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 aku
mengajaknya pulang karena perjalanannya jauh. “ayo pulang, udah jam segini
nanti kita kemaleman sampenya”. “yaudah ayo” jawabnya sambil berjalan ke
parkiran. Kita berdua bergegas pulang, tiba-tiba ditengah perjalanan dia
berhenti “loh kenapa kok berhenti?” “aku punya sesuatu buat kamu” jawabnya
tersenyum. “lah apa sih?” sautku lagi. Lalu dia mengambil serangkai bunga dari
kursi belakang. Perasaanku saat itupun tak karuan. “ini buat aku?” tanyaku.
“iya buat kamu, aku suka kamu” jawab dia dengan keseriusan. Hatiku berdegup
kencang, perasaan bahagia, terharu bercampur aduk hingga aku tak bisa berkata
apa apa.
Di sepanjang perjalan aku senyum-senyum
sendiri, saat itu bahagia sekali. Selepas itu kami menjalani sebuah hubungan
yang lebih dari teman. Pertemuan demi pertemuan semakin membuatku nyaman dan bahagia
bisa bersamanya. Usia kita memang terpaut 4 tahun tetapi umur tidak menjadi
halangan dalam sebuah hubungan.
Waktu ke waktu ku jalani tak terasa 1
tahun bersama, tetapi entah kenapa mulai ada perselisihan diantara kami. Jika
hanya salah faham, egois masih bisa dimaklumi, tetapi jika adanya orang ketiga
dalam sebuah hubungan itu sudah fatal. Tak sengaja ku buka handphone nya
ternyata ada pesan dari seorang wanita, yang berisi kalimat kalimat mesra.
Hatiku kecewa, dia mengingkari janji tidak akan menyakiti hati wanita. Tetapi
apa yang dia perbuat di belakangku. Kepercayaanku di salah artikan, karena
itulah hubungan ku berakhir.
Hubungan yang ku pertahankan selama satu
tahun berujung sia-sia. Hatiku sempat kecewa tapi ku sadar lelaki yang benar-benar
menyayangiku tidak akan pernah menyakiti perempuan yang ia sayangi. Sepeti yang
sebelumnya sebuah hubungan hanya manis diawal selebihnya pait.
Pagi tanpamu hanyalah hawa dingin yang
terasa sebab matahari belum mengecupku. Namun bening embu menyadarkanku. Pagi
tetaplah pagi meski tanpamu.
Komentar
Posting Komentar